
Bulan Ramadhan senantiasa hadir sebagai musim keberkahan yang dinanti umat Islam. Di dalamnya terkandung limpahan rahmat, ampunan, dan peluang besar untuk memperbaiki diri. Karena itu, Ramadhan tidak semestinya dipahami hanya sebagai agenda tahunan, tetapi sebagai fase pembinaan ruhani yang mampu membentuk karakter, memperkuat disiplin, serta meningkatkan kualitas ketakwaan.
Pada 1 Ramadhan 1447 H bertepatan dengan 18 Februari 2026, Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan, Dr. Arif Rahman, menyampaikan kultum subuh di Masjid Noor Pakuningratan. Dalam tausiyahnya, beliau mengangkat gagasan tentang pentingnya menyiapkan “kurikulum Ramadhan” agar bulan suci ini benar-benar memberikan dampak spiritual yang mendalam.
Ramadhan sebagai Momentum Pendidikan Ruhani
Dalam penyampaiannya, beliau menekankan bahwa Ramadhan adalah bulan istimewa karena Allah SWT membuka pintu rahmat dan ampunan seluas-luasnya. Setiap amal dilipatgandakan, doa lebih dekat dengan pengabulan, dan kesempatan untuk melakukan perbaikan diri terbuka lebar.
Menurutnya, agar Ramadhan tidak berlalu tanpa makna, diperlukan perencanaan yang matang. Konsep “kurikulum Ramadhan” dimaksudkan sebagai rangkaian program ibadah yang tersusun dan terukur, seperti meningkatkan kualitas puasa, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, menguatkan sedekah, mengikuti kajian keislaman, serta membiasakan ibadah malam. Dengan pengelolaan yang sadar dan terencana, Ramadhan dapat menjadi titik tolak perubahan spiritual yang nyata.
Maghfiroh: Janji yang Ditegaskan dalam Hadis
Beliau juga mengingatkan bahwa maghfiroh merupakan anugerah yang dijanjikan Allah SWT di bulan Ramadhan. Hal ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW:
“Man shoma Ramadhona imanan wahtisaban ghufiro lahu ma taqoddama min dzanbih.”
Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan penuh harap, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Hadis lain menyebutkan:
“Man qooma Ramadhona imanan wahtisaban ghufiro lahu ma taqoddama min dzanbih.”
Barang siapa menegakkan (shalat malam) di bulan Ramadhan dengan iman dan penuh harap, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Menurut beliau, dua hadis tersebut menegaskan bahwa ampunan Allah bukan sekadar harapan abstrak, melainkan janji bagi mereka yang menjalankan ibadah Ramadhan dengan iman dan keikhlasan.
Menyempurnakan Ibadah hingga Malam
Dalam tausiyahnya, beliau turut mengutip potongan ayat Surah Al-Baqarah ayat 187:
“Wa atimmu siyama ilal lail”
“…dan sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.”
Ayat ini menunjukkan bahwa kesempurnaan puasa tidak berhenti pada menahan lapar dan dahaga di siang hari. Ibadah malam seperti tarawih dan qiyamullail menjadi bagian penting dari totalitas penghambaan. Siang hari mendidik kesabaran dan pengendalian diri, sedangkan malam menghadirkan kedekatan yang lebih intim dengan Allah SWT.
Ramadhan sebagai Investasi Kehidupan
Menutup kultumnya, Dr. Arif Rahman mengajak jamaah menjadikan Ramadhan sebagai investasi spiritual jangka panjang. Dengan perencanaan ibadah yang terarah dan konsisten, setiap Muslim diharapkan mampu meraih maghfiroh yang dijanjikan serta keluar dari Ramadhan dalam kondisi yang lebih bersih, lebih bertakwa, dan lebih baik daripada sebelumnya.
Kultum subuh perdana tersebut berlangsung dengan suasana khidmat dan penuh semangat, menjadi awal yang inspiratif dalam menyambut Ramadhan 1447 Hijriah.