TEHERAN – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat tajam setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan militer ke sejumlah titik strategis di wilayah Iran pada 28 Februari 2026.
Serangan yang terjadi pada dini hari waktu setempat tersebut dilaporkan memicu sejumlah ledakan di beberapa lokasi yang memiliki nilai strategis militer. Fasilitas yang diduga berkaitan dengan sistem pertahanan dan logistik militer Iran disebut menjadi sasaran utama operasi.
Mengutip laporan media internasional seperti Reuters, operasi ini dilakukan sebagai bagian dari upaya menekan eskalasi ancaman keamanan di kawasan. Target serangan disebut difokuskan pada infrastruktur yang dinilai memiliki relevansi terhadap stabilitas regional dan dinamika militer Iran.
Sejumlah analis hubungan internasional menilai langkah ini mencerminkan perubahan pendekatan strategis — dari kebijakan pencegahan tidak langsung menuju tindakan militer terbuka.
Selama ini, dinamika konflik antara Israel dan Iran lebih sering berlangsung melalui aktor proksi di berbagai wilayah konflik Timur Tengah. Namun serangan pada 28 Februari tersebut menunjukkan adanya pergeseran menuju konfrontasi langsung yang berpotensi meningkatkan eskalasi kawasan.
Reaksi internasional pun segera bermunculan. Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Sekretaris Jenderalnya menyerukan penahanan diri dari semua pihak. Seruan tersebut, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita global, menekankan pentingnya jalur diplomasi guna mencegah konflik meluas.
Pandangan Pengamat Dunia Islam
Pengamat dunia Islam, Dr. Arif Rahman, Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan, menilai bahwa serangan ini tidak dapat dilepaskan dari dinamika geopolitik global yang lebih luas.
Menurutnya, konflik ini bukan sekadar persoalan keamanan regional, tetapi juga menyentuh dimensi politik internasional dan persepsi dunia terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.
“Langkah militer terbuka seperti ini berpotensi memperluas konflik, bukan hanya secara geografis tetapi juga secara ideologis dan politik. Dunia internasional perlu mendorong pendekatan diplomasi agar konflik tidak berkembang menjadi krisis kawasan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa eskalasi konflik berisiko mempengaruhi stabilitas dunia Islam secara umum, baik dalam aspek politik, ekonomi, maupun kemanusiaan.
Sejumlah negara kini menyuarakan kekhawatiran bahwa situasi ini dapat berdampak pada stabilitas keamanan regional, termasuk jalur perdagangan dan energi global.
Pengamat geopolitik memperingatkan bahwa jika aksi militer berlanjut atau memicu balasan, konflik berpotensi berkembang dari operasi terbatas menjadi konfrontasi regional yang lebih luas.
Sumber gambar: Kompas.id